Apa yang Dimaksud bersama dengan Menghardik Anak Yatim ? Ini Penjelasannya dalam Islam – Islam merekomendasikan umatnya untuk tetap menyebarkan kasih sayang dan kepedulian kepada sesama, mencakup di antaranya kepada anak yatim. saran ini sudah tertera didalam Alquran dan hadist, keliru satunya melewati sabda Rasulullah tersebut ini:
“Orang-orang yang memelihara anak yatim di antara umat muslimin, membuktikan mereka makan dan minum, pasti Allah memasukkannya ke di dalam surga, kalau ia lakukan dosa yang tidak dapat diampuni.” (HR Tirmidzi dari Ibnu Abbas)
Apa yang Dimaksud bersama dengan Menghardik Anak Yatim ? Ini Penjelasannya dalam Islam
Begitu mulia kedudukan anak yatim di dalam Islam, supaya umat Muslim pun direkomendasi untuk menyayangi dan mengasihinya. Dilarang baginya untuk menghardik anak yatim. karena yang demikian mencakup ke di dalam tindakan orang-orang yang mendustakan agama, Allah berfirman:
“Tahukah anda (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,” (QS. Al-Ma’un: 1-2)
Lantas, apa yang dimaksud bersama menghardik anak yatim jelaskan cocok dalam ajaran Islam? Untuk mengetahuinya, saksikan penjelasan berikut.
Arti Menghardik Anak Yatim
Mengutip buku Nasihat Langin Penentram Jiwa oleh Syaikh ash-Shafuri, menghardik berarti menjauhi haknya. Maksudnya, seseorang yang menghardik anak yatim adalah orang yang menghindari hak yang semestinya didapatkan olehnya.
Contoh tabiat menghardik anak yatim pada lain layaknya enggan memberi makan kepadanya, enggan menyantuninya, dan senantiasa berkata kasar padanya.
Yang demikianlah identik seperti tingkah laku kafir Quraisy antara zaman jahiliyah. dalam buku Mutiara Juz Amma oleh H. Sakib Machmud, dikisahkan bahwa para pemimpin Makkah, layaknya Abu Jahal dan Abu Sufyan, tiap-tiap minggu berpesta pora bersama dengan kawan-kawannya.
Mereka menyembelih seekor unta tiap-tiap kali pesta diselenggarakan sedangkan tatkala datang seorang anak yatim meminta sekerat daging saja, mereka menghardik dan mengusirmya.
Mereka jadi tidak datang gunanya memberi sesuatu kepada anak yatim. Pasalnya, anak yatim itu tidak bakal bisa memberi balasan apa-apa, baik berwujud materi ataupun jasa. Padahal, kalau saja mereka itu mendengarkan suara hati nuraninya, pastilah ia bergegas memberi kepada anak yatim.
Anak-anak itu tanpa lakukan kekeliruan telah mengalami susah Mereka kehilangan ayah antara pas belum menginjak dewasa. Itu berarti kehilangan kasih sayang, pertolongan dan santunan rezeki yang mestinya ia dapatkan.
Dengan memperlihatkan hak anak yatim, Allah bakal membuktikan balasan surga. Sebagaimana dijelaskan didalam hadist berikut:
“Demi Tuhan yang mengutusku dengan kebenaran jadi Nabi, Allah tidak dapat menyiksa pada hari kiamat pada orang yang menyayangi anak yatim, menghaluskan ucapan kepada mereka, dan mengasihi keyatimannya”
Dalam riwayat lain, Rasulullah terhitung bersabda, “Sesungguhnya, rumah yang paling dicintai oleh Allah adalah rumah yang berisi anak yatim yang dimuliakan”
Dianjurkan bagi umat Muslim untuk menyayangi anak yatim. Rasulullah menganjurkan umat Muslim untuk mengasihinya, mengusap kepalanya, dan memberinya makanan berasal dari minuman.
Dengan demikianlah Allah bakal melembutkan hatinya dan memenuhi kebutuhannya. tersebut info haditsnya:
“Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa yang mengusap anak yatim dengan tiada lain niatnya terkecuali gara-gara Allah, maka setiap rambut yang disentuh tangannya ditulis sepuluh kebaikan.
Barang siapa berbuat kepada anak yatim perempuan atau anak yatim lelaki di sampingnya, maka aku dan dia layaknya ini di surga.’ saat itu beliau membuktikan sela-sela di pada jari telunjuk dan jari tengahnya.”
Golongan Orang yang Menghardik Anak Yatim
Dalam Islam, orang yang menghardik anak yatim mencakup ke didalam golongan orang-orang yang mendustakan agama. hal ini sebagaimana firman Allah di dalam Alquran surat Al-Ma’un ayat 1-3 berikut:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ
Artinya: “Tahukah anda (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak merekomendasikan berikan makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1-3)
Berdasarkan ayat berikut datang dua perihal yang menimbulkan seseorang tergolong pendusta agama, yaitu menghardik anak yatim dan tidak ingin menyarankan berikan makan orang miskin.
Dikutip berasal dari sehingga Hidup tetap Berkah oleh Habib Syarief Muhammad Alaydrus (2009: 83), alasan mengapa dikatakan pendusta agama adalah sebab anak yatim memiliki standing yang benar-benar mendasar dalam Islam menyangkut kepribadian Rasulullah itu sendiri.
Rasulullah dilahirkan dalam situasi yatim dan dikala ibundanya meninggal, beliau termasuk tetap di dalam keadaan yatim. saat Rasulullah dalam keadaan yatim, tidak hadir seorang pun yang acuhkan terhadap beliau jika keluarganya sendiri.
Perlakuan semena-mena terhadap anak yatim dan tidak ada kepedulian kepada fakir miskin merupakan gara-gara utama manusia tergolong sebagai pendusta agama.
Orang yang beriman hendaknya menyimak nasib anak yatim, agar tidak dimasukkan di dalam golongan orang-orang yang mendustakan agama.
Berbagai cara dapat ditunaikan contohnya bersama dengan memberi anak yatim makan, membantu biaya pendidikan, serta andaikata sangat mungkin menjadikan anak yatim sebagai anak asuh dan menjaganya di rumah
Rasulullah amat menyayangi anak-anak yatim dan beliau banyak bersabda tentang mereka. tidak benar satu sabda Rasulullah adalah sebagai berikut.
“Dari Abu Hurairah berasal dari Nabi Muhammad, beliau bersabda: ‘Sebaik-baik tempat tinggal di kalangan kaum Muslimin adalah tempat tinggal yang terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik.
Dan sejelek-jelek rumah di kalangan kaum Muslimin adalah rumah yang terletak anak yatim dan dia diperlakukan bersama buruk.'” (HR. Ibnu Majah)
Balasan untuk Orang yang Menghardik Anak Yatim
Setiap orang yang menghardik anak yatim akan mendapat balasan berasal dari Allah di akhirat kelak bersifat hukuman menelan api di di dalam perut dan orang tersebut dapat masuk ke didalam api yang menyala-nyala. perihal ini layaknya firman Allah didalam Alquran surat An-Nisa’ ayat 10 yang berbunyi:
اِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ اَمْوَالَ الْيَتٰمٰى ظُلْمًا اِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ نَارًا ۗ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيْرًا ࣖ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sesungguhnya mereka itu menelan api di dalam perutnya dan mereka akan masuk ke di dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa’: 10)
Selain itu, balasan bagi orang yang menghardik anak yatim adalah Allah akan mendatangkan ada masalah untuknya. perihal ini sebagaimana diterangkan di dalam surat Al-Baqarah ayat 220 berikut:
وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْيَتَٰمَىٰ ۖ قُلْ إِصْلَاحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ ۖ وَإِن تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَٰنُكُمْ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ ٱلْمُفْسِدَ مِنَ ٱلْمُصْلِحِ ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya: “Dan mereka tanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: ‘Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan seumpama anda bergaul bersama dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengenali siapa yang bikin rusaknya berasal dari yang mengadakan perbaikan.
Dan apabila Allah menghendaki niscaya Dia akan mendatangkan kesusahan kepadamu. sebenarnya Allah Maha Perkasa kembali Maha Bijaksana.'” (QS. Al Baqarah: 220)
Memelihara anak yatim merupakan amal perbuatan yang terlalu utama. Orang yang menjaga anak yatim kelak akan hidup berdekatan bersama dengan Rasulullah di surga. sementara itu, orang yang menghina anak yatim akan dilaknat oleh Allah dan masuk ke di dalam neraka-Nya.
Ayat Menghardik Anak Yatim
Ada sebagian ayat Alquran yang menjelaskan perihal larangan menghardik anak yatim, di antaranya:
1. QS. Al-Ma’un Ayat 1-3
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ
Artinya: “Tahukah anda (orang) yang mendustakan Agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menyarankan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1-3)
2. QS. An-Nisa Ayat 10
اِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ اَمْوَالَ الْيَتٰمٰى ظُلْمًا اِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ نَارًا ۗ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيْرًا ࣖ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebetulnya mereka itu menelan api didalam perutnya dan mereka dapat masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10)
3. QS. Ad-Dhuha Ayat 9
فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْۗ
Artinya: “Maka pada anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ad-Dhuha: 9)
4. QS. Al-An’am 152
وَلَا تَقْرَبُوْا مَالَ الْيَتِيْمِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ حَتّٰى يَبْلُغَ اَشُدَّهٗ ۚوَاَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيْزَانَ بِالْقِسْطِۚ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۚ وَاِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوْا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰىۚ وَبِعَهْدِ اللّٰهِ اَوْفُوْاۗ ذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَۙ
Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan langkah yang lebih berguna sampai dia raih (usia) dewasa. Dan sempurnakanlah kadar dan timbangan bersama dengan adil.
Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. apabila anda berkata bicaralah sejujurnya, samasekali dia kerabat(mu) dan penuhilah janji Allah. demikianlah Dia memerintahkan kepadamu sehingga anda ingat.” (QS. Al-An’am: 152)